sabun cair

Published November 28, 2011 by elariya

Minyak goreng memegang peranan yang sangat penting dalam pengolahan produk pangan. Hal ini mengakibatkan konsumsi minyak goreng meningkat dari tahun ke tahun. Konsumen minyak goreng terbesar adalah industri makanan, restoran, dan hotel. Setelah digunakan berulang-ulang selanjutnya minyak goreng tersebut menjadi minyak goreng bekas. Sebenarnya minyak goreng bekas tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali setelah dilakukan proses pemurnian ulang (reprosesing), namun karena keamanan pangan mengkonsumsi minyak goreng hasil reprosesing masih menjadi perdebatan sengit akibat adanya dugaan senyawa akrolein yang bisa menyebabkan keracunan bagi manusia, maka alternatif lainnya adalah dengan memanfaatkannya sebagai bahan baku industri non pangan seperti sabun cair.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik fisik, kimia, dan organoleptik sabun cair dengan bahan baku minyak goreng hasil reprosesing, menentukan  kombinasi perlakuan terbaik pembuatan sabun cair dengan bahan baku minyak goreng hasil reprosesing untuk memperoleh komposisi sabun cair yang mendekati Standar Nasional Indonesia (SNI) dan menentukan kelayakan finansial pembuatan sabun cair dengan bahan baku minyak goreng hasil reprosesing. Manfaat dari penelitian ini adalah meningkatkan nilai ekonomis minyak goring hasil reprosesing sebagai bahan baku pembuatan sabun cair. Hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga kombinasi lama pengadukan dan penambahan air akan berpengaruh terhadap sifat fisik,kimia, dan organoleptik dari sabun cair.

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor, yaitu lama pengadukan yang terdiri atas 3 level (60’, 90’, 120’) dan rasio air-sabun yang terdiri atas 3 level (air-sabun = 2:1, 3:1, 4:1 (b/b)) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi lama pengadukan dan penambahan air berpengaruh terhadap viskositas sabun cair.

Hasil pemilihan alternatif terbaik menunjukkan bahwa sabun cair terbaik dibuat dengan lama pengadukan 90 menit dan penambahan air 2:1(b/b). Sabun cair ini memiliki karakteristik fisik-kimia: pH 10,0667; kadar alkali bebas 0,0312%; daya busa 2,0333 cm; viskositas 5,2 cps, dan kadar total asam lemak 8,6041%. Setelah dibandingkan dengan SNI sabun mandi cair jenis S, diketahui bahwa sabun cair ini telah memenuhi syarat, kecuali untuk kadar total asam lemak yang masih di bawah standar. Berdasarkan uji organoleptik diketahui bahwa perlakuan tersebut memiliki nilai kesukaan untuk kenampakan 3,27 (netral); kekentalan 2,97 (agak tidak suka); daya busa 2,4 (agak tidak suka); rasa kesat 3 (netral); dan aroma 3,87 (netral).

Hasil Analisis Finansial menunjukkan bahwa HPP Rp 3.600,00 dengan harga jual   Rp 4.860,00. Kapasitas produksi perhari 100 botol @500ml. BEP didapat pada 4.834 unit atau senilai Rp 23.490.630,00 . Perhitungan PP menunjukkan lama waktu pengembalian investasi adalah 3 tahun 6 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa proyek layak untuk diusahakan, karena masa pengembalian lebih pendek daripada umur proyek yang direncanakan, yaitu selama 5 tahun.

sumber : http://nurhidayat.lecture.ub.ac.id/2010/08/pembuatan-sabun-cair/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: